DEUTEROMYCOTA
Deuteromycota berasal dari 2 kata yaitu deutero
yang artinya urutan kedua atau tidak sempurna, dan mycota yang artinya fungi.
Jadi, ia adalah jamur kelas dua atau jamur yang tidak sempurna.Deuteromycota
awalnya adalah suatu kelas dari jamur yang setara dengan Basidiomycota,
Ascomycota, dan sebagainya yang
hanya diobservasi dari morfologi dan fisiologinya saja, namun cara
perkembangbiakan secara generatif tidak atau belum ditemukan atau belum
diketahui. Semua jamur yang "tidak jelas" seperti itu masuk ke
Deuteromycota. Namun sejak tahun 1990an, takson Deuteromycota sudah tidak
ada lagi, para ahli mycologi sepakat untuk memasukkan jamur-jamur yang ada pada
Deuteromycota ke kelas lain sesuai dengan aspek fisiologis dan morfologisnya,
lalu dengan adanya konsep pengklasifikasian berbasis DNA, jamur-jamur
ex-Deuteromycota berpindah-pindah lagi, namun bukan secara kelas melainkan pada
tingkatan famili atau genus.
Jamur Deuteromycota
adalah jamur yang berkembang biak dengan konidia dan belum diketahui tahap
seksualnya. Tidak ditemukan askus maupun basidium sehingga tidak termasuk dalam
kelas jamur Ascomycota atau Basidiumycota. Oleh karena itu, jamur Deuteromycota
merupakan jamur yang tidak sempurna (jamur imperfeksi).
Divisi ini
disebut juga ‘fungi imperfecti’ atau jamur tidak sempurna.Divisi ini
seolah dibuat untuk mengelompokkan semua jamur yang tidak termasuk ke dalam
divisi lainnya.Ciri utama dari divisi ini adalah belum diketahuinya reproduksi
seksual selama siklus hidupnya.Jamur Deuteromycota hanya ditemukan di
daratan.Sebagian besar anggota divisi ini kemungkinan berkerabat dengan
Ascomycota karena adanya pembentukan konidia.Sisanya kemungkinan adalah
Zygomycota dan Basidiomycota yang tidak melakukan reproduksi seksual. Jika
studi lebih lanjut pada suatu spesies Deuteromycota menunjukan adanya
reproduksi seksual, maka spesies itu akan dikeluarkan dari divisi ini.
A.
Karasteristik
Deuteromycota
Jamur Deuteromycota memiliki
karakteristik sebagai berikut:
1. Hifa bersekat
2. Tubuh berukuran mikroskopis
3. Bersifat
multiseluler
4. Tidak
berklorofil
5. Eukariotik
6. Heterotrof
7. Dinding
sel tersusun atas zat kitin
8. Tergolong
kedalam fungi imperfect yang banyak menimbulkan penyakit pada
tanaman budidaya dan manusia.
9. Merupakan fungi yang tidak sempurna karena
tidak memiliki askus/ basidium.
10. Bersifat parasit pada ternak dan ada yang
hidup saprofit pada sampah dan sisa-sisa makanan
11. Reproduksi aseksual dengan konidium dan
seksual belum diketahui
12. Hidup didaratan
dan tempat lembab.
B. Cara Hidup Deuteromycota
Jamur menyerap zat organik
dari lingkungannya. Sebelum diserap, zat organik kompleks akan diuraikan
menjadi zat organik sederhana oleh enzim yang dikeluarkan jamur. Penguraian
atau pencernaan zat organik di luar sel atau tubuh jamur ini disebut sebagai
pencernaan ekstraseluler. Bahan organik yang diserap selain digunakan langsung
untuk kelangsungan hidupnya, juga ada yang disimpan dalam bentuk glikogen.
Jamur bersifat heterotrof
atau memperoleh zat organik dari hasil sintesis organisme lain. Zat organik
dapat berasal dari sisa-sisa organisme mati dan bahkan tak hidup atau dari
organisme hidup. Berdasarkan cara memperoleh makanannya, jamur bersifat
saprofit, parasit, dan mutual. Lihat Gambar 1.6.

^Gambar 1.6 (a) Jamur saprofit yang tumbuh
pada serasah, (b) Ustilago, jamur parasit pada tanaman jagung, dan (c)
mikoriza, jamur mutual pada jaringan akar tanaman (tanda panah)
Saprofit
Jamur yang bersifat saprofit
memperoleh zat organik dari sisa-sisa organisme mati dan bahan tak hidup.
Misalnya serasah (ranting-ranting dan daun yang telah gugur dan melapuk), daun,
pakaian, dan kertas. Jamur dengan sifat ini di alam berperan sebagai pengurai
(dekomposer) utama. Penguraian oleh jamur menyebabkan pelapukan dan pembusukan.
Parasit
Jamur yang bersifat parasit
memperoleh zat organik dari organisme hidup lain. Jamur dengan sifat ini
merugikan organisme inangnya karena dapat menyebabkan penyakit.
Mutual
Jamur dengan sifat mutual
hidup saling menguntungkan dengan organisme inangnya. Contohnyam jamur yang
bersimbiosis dengan ganggang hijau biru atau ganggang hijau membentuk lumut
kerak (lichen). Jamur membantu ganggang menyerap air dan mineral, sedangkan
ganggang akan menyediakan bahan orgnaik hasil fotosintesisnya bagi jamur.
Contoh lain adalah jamur yang bersimbiosis dengan akar tanaman tingkat tinggi
membentuk mikoriza. Jamur akan meningkatkan penyerapan air dan mineral dari
tanah oleh akar tumbuhan.
C. Reproduksi Deuteromycota
Fase pembiakan secara vegetative pada monilia sp. Ditemukan oleh dodge (1927) dari amerika serikat, sedangakan fase generatifnya ditemukan oleh dwidjoseputro (1961), setelah diketahui fase generatifnya, kenudian jamur ini dimasukkan golongan ascomycocetes dan diganti namanya menjadi Neurospora sitophilla atau Neurospora crassa.
Reproduksi generative monilia sp dengan menghasilkan askospora. Askus – askus yang tumbuh pada tubuh buah dinamakan peritesium, tiap askus mengandung delapan spora. Contoh lain jamur yang tidak diketahui alat reproduksi seksualnya antara lain : chalado sporium, curvularia, gleosporium, dan diploria. Untuk memberantas jamur ini digunakan fungisida , misalnya lokanol dithane M-45 dan copper Sandoz.
D. Contoh Deuteromycota
Jamur Deuteromycota juga ada yang
bermanfaat, yaitu Aspergillus. Aspergillus ada yang telah memasukkannya ke
dalam Ascomycota. Akan tetapi, ada pula yang memasukkannya ke dalam
Deuteromycota.
Aspergillus bersifat saprofit dan
terdapat di mana-mana, baik di negara tropika maupun subtropika. Aspergillus
hidup pada makanan, sampah, kayu, dan pakaian. Hifa Aspergillus
bercabang-cabang. Pada hifa tertentu muncul konidior (pembawa konidia) yang
memiliki konidiaspora yang tumbuh radial pada konidiofor. Coba perhatikan jamur
berwarna kekuningan atau kecokelatan pada roti dan periksalah dengan mikroskop.
Beberapa di antara spesies
Aspergillus ada yang digunakan untuk proses pengolahan makanan, misalnya:
·
Aspergillus niger untuk menjernihkan sari buah

·
Aspergillus oryzae digunakan untuk melunakkan adonan roti

·
Aspergillus wentii digunakan untuk pembuatan kecap, tauco, sake, dan
asam oksalat.

Kesimpulan
1.
Deuteromycota adalah jamur yang berkembang biak dengan konidia dan belum
diketahui tahap seksualnya. Tidak ditemukan askus maupun basidium sehingga
tidak termasuk dalam kelas jamur Ascomycota atau Basidiumycota. Oleh karena
itu, jamur Deuteromycota merupakan jamur yang tidak sempurna (jamur
imperfeksi).
2.
Deuteromycota memiliki karakteristik yaitu Hifa bersekat, Tubuh
berukuran mikroskopis, Bersifat multiseluler, Tidak berklorofil, Bersifat
parasit pada ternak dan ada yang hidup saprofit pada sampah dan sisa-sisa
makanan dan Reproduksi aseksual dengan konidium dan seksual belum diketahui.
3.
Jamur ini bersifat saprofit di banyak jenis materi organik dan sebagian
yang lain hidup sebagai parasit pada tanaman tingkat tinggi, dan perusak
tanaman budidaya dan tanaman hias.
4.
Jamur ini hanya diketahui cara reproduksi aseksualnya saja oleh karena
itu sering disebut fungi imperfecti atau jamur tidak sempurna. Reproduksi
aseksual jamur deuteromycota yaitu dengan cara pembentukan konidia.
5.
Deuteromycota mempunyai peranan yang menguntungkan dan peranan yang
merugikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar